Digital Culture untuk Peserta Didik Madrasah dipersiapkan Kementerian Agama Republik Indonesia

Berita, Madrasah4489 Dilihat

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani menginginkan para guru dan peserta didik madrasah mampu beradaptasi dengan zaman melalui komputasional thingking, maka dari itu Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani akan menyiapkan digital culture.

Digital culture akan dipersiapkan melalui komputasional thingking dan berbagai atributnya agar peserta didik hadir, tidak hanya sekedar menjadi penonton dari sebuah perkembangan kehidupan serta peradaban. Mereka tidak berada pada pojok-pojok peradaban. Mereka tidak berada pada sudut-sudut kemajuan, tetapi mereka harus menjadi pelaku utama, ungkap Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani pada saat menjadi narasumber pada talkshow bertajuk “Kecakapan Berpikir Komputasional Menyongsong Madrasah Melek Digital” di Panggung Utama Islamic Book Fair 2022, Gedung Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada Kamis tanggal 4 Agustus 2022 malam.

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani, adaptasi merupakan kata kunci yang kemudian kami pegang sebagai salah satu proses untuk menciptakan madrasah yang unggul dan kompetitif. Pada waktu yang bersamaan pihaknya bekerjasama dengan Penerbit Erlangga meluncurkan buku Panduan Literasi Digital dan Panduan Berpikir Komputasional bagi guru madrasah. Peluncuran dua buku ini sebagai salah satu upaya pemerintah dalam mempersiapkan guru dan peserta menghadapi tantangan  besar terkait revolusi industri 4.0 ke society 5.0. 

Salah satunya adalah ketika mencoba dan menerapkan literasi digital sebagai salah satu kompetensi inti dari peserta didik kita. Buku ini hadir melengkapi visi misi kami agar kemudian mereka peserta didik adalah orang-orang yang menguasai zamannya, mereka adalah insan-insan yang beribukan waktu dan berayahkan zaman, mereka mampu menari bersama zaman untuk kemudian menarikan zaman, ungkap Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani mengaku, Ditjen Pendis sudah sejak lama mempersiapkan literasi digital, hanya saja baru dilauching dua tahun lalu. Ini sudah dipersiapkan sejak lama tetapi launchingnya itu baru sekitar dua tahun yang lalu ketika kita menggalakkan komputasional thingking sebagai salah satu program unggulan di Ditjen Pendis untuk menyertai kompetensi siswa-siswa madrasah kita, jelas Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani menyebutkan, aksentuasi madrasah merupakan sekolah dengan ciri khas keagamaan untuk melengkapi keagamaan dengan lima pelajaran khususnya, sehingga Ditjen Pendis mencoba mengantarkan mereka melalui pemahaman pengetahuan yang memadai dan mumpuni dalam kehidupannya. 

Di satu sisi mereka menguasai teknologi tetapi mereka pun harus dan wajib kokoh di bidang keagamaan,” ungkap Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani.

Artikel ini telah tayang di website Kementerian Agama Republik Indonesia (https://kemenag.go.id) dengan judul “Kemenag Siapkan Digital Culture untuk Peserta Didik Madrasah”.

(Visited 196 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *